PENJURIAN SERAMA

Selasa, 12 Maret 2013

* Jenis - Ciri utama adalah kepala melunjur ke belakang, bagian belakang pendek, sayap menegak dan ekor panjang penuh dan apabila mengembang tidak menyentuh balung/jengger.  Kedudukan tengah mata sama dengan kedudukan tengah kaki ketika berdiri.

* Perwatakan - Kelihatan gagah, berani dan yakin. Lantang, suka menonjol seperti berkokok dan suka berdiri.

* Ekor - Size besar, menegak dan tinggi. Bulu pelepah ekor utama panjang, melentik di ujung dan kembang seperti bentuk V.  Lawi (ayam jantan) menegak 90 derajat dan sedikit melentik ke belakang di ujung.

* Sayap - Ketika berdiri, sayap ayam dalam posisi menegak tetapi sedikit mengarah ke belakang. Ujung sayap bersentuhan sedikit dengan lantai.

* Badan - Tegap dan bulat. Dada ayam lebih luas dari bagian belakang apabila dilihat dari atas. Dari samping, badan berbentuk V. Belakang ayam pendek dan lebar di bagian bahu.

* Kaki - Tidak begitu rapat dan simetris. Panjang sederhana dan seimbang dengan ukuran sayap. Paha berotot dan sedikit panjang/jenjang. Taji di bahagian tengah betis, keras, kecil dan mengarah ke belakang kaki.

Kategori umur bagi ayam serama yang sehat adalah seperti berikut :

Grade 3A beratnya dibawah 250 gr
Grade 1A beratnya dibawah 350 gr
Grade B beratnya dibawah 500 gr

Gaya / perangai adalah sesuatu yang sangat subjektif untuk ditampilkan, tergantung dari citarasa individu yang berbeda. Ayam serama lebih dikenal karena kecantikan postur tubuh dan dipelihara hanya untuk tujuan menyertai pertandingan dan sekedar hobi.  Jika ada kamera dan limpahan cahaya lensa,  ayam ini segera mengangkat dada dan meluruskan ekor tegak ke atas hingga 90 deajat serta mengibas kedua sayapnya. Gaya / perangai ayam serama sangat digemari oleh jurufoto karena mudah untuk mendapatkan pose yang menarik dan fotogenik. Ada juga ayam serama yang begitu sulit untuk diambil gambarnya karena seringkali berjalan menjelajahi setiap penjuru meja.

Ciri-ciri yang patut ada pada seekor serama untuk pertandingan....

ciri yang utama ialah gaya ( 25% ), tubuh (15%), ekor & lawi (25%), Kepala & Balung (15%), warna (10%), sayap (10%), bulu (5%) dan kaki (5%). Biasanya ayam A yang beratnya dalam kategori 320 - 350g yang gayanya tinggi....ayam yang lebih ringan 220 - 300g biasanya kurang aktif.

GAYA : Penilaian  penuh adalah 25% tetapi dalam hal ini nilai yang tertinggi adalah 23.5. Gaya dihitung dari segi bagaimana ayam tersebut beraksi seperti mengebas-mengebas, tarik, berjalan dengan megah, tarik selam kepala untuk menampakkan dadanya yang besar, angkat kaki sebelah, leher bergetar, dsb.

TUBUH :
Penilaian  penuh adalah 15% tetapi dalam hal ini nilai yang tertinggi adalah 13.5. Tubuh cantik dilihat jika ayam tersebut bisa mengangkat dadanya hingga tidak menampakkan ruang di antara ekor dan belakang ayam tersebut. Kepala juga perlu melewati mata kaki namun ekor tidak boleh melewati mata kaki. Seramania negara tetangga menyebutnya " TIKAM KEPALA ", Jadi kedudukan kepala adalah melebihi 90 derajat.

EKOR : Penilaian penuh adalah 15%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi adalah 13. Ekor yang cantik harus mempunyai lebih dari 5 bilah/helai sebelah. Susunannya teratur, yaitu tersusun dengan rapi. Tidak boleh ada yang pendek ditengah-tengah, menampakkan susunan menaik, dan ekor mesti terbuka., tak boleh tertutup rapat atau menguncup. Seramania negara tetangga menyebutnya BENTUK DAUN SIRIH

LAWI : Penilaian penuh adalah 10%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi adalah 8.5.  Lawi cantik mestilah lebih tinggi dari ekor pendukung lawi, sekurang-kurangnya 1 inci. Lawi harusnya tegak ke atas. Dua lawi ini harus sama panjang, keras, halus dan tajam meruncing. Istilah yang biasa digunakan untuk lawi ialah LAWI PEDANG dan LEMBING

SAYAP : Penilaian penuh untuk sayap adalah 7%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi untuk sayap adalah 6. Susunan sayap mesti rapi, Bulu pelepah pada sayap tidak menampakkan rongga, tidak terlalu pendek atau terlalu panjang. Mata kaki digunakan sebagai penentu. Sayap yang cantik adalah apabila diluruskan ke bawah boleh menutupi kakinya dan tidak mencecah tanah. Mesti terpacak tegak 90 derajat.

BALUNG / JENGGER : Penilaian penuh yaitu 10%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi balung adalah 8. Balung cantik apabila size nya sesuai dengan wajah ayam. Tidak tebal, berwarna merah terang menyala untuk menunjukkan balung sehat, ruasnya melebihi dari 5 buah, Tegak, tersusun dengan rapi, terlihat keseragaman dalam susunannya.

WARNA : Penilaian  penuh adalah  8%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi adalah 7. Warna kelas satu yaitu warna-warna yang berkilat seperti kuning, merah, ara, kumbang lilin, Warna kelas 2 ialah warna putih, kubing, warna kotor atau warna bercampur dengan warna hitam didadanya.

BULU : Penilaian penuh untuk bulu adalah 5%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi untuk bulu adalah 4. Bulu harusnya lembut, bersih terutama ujung sayap dan bawah punggung, tidak pecah,. Tips mandikan ayam, 3 atau 4 hari sebelum kontes, jangan mandikan sehari sebelum kontes berlangsung karena bulu tidak akan tersusun dengan rapi.

KAKI : Penilaian penuh 5%, tetapi seperti biasa nilai tertinggi untuk kaki adalah 4. Warna kaki terang biasanya kuning, panjang, bersih, tegap bila berdiri, bengkok akan mengurangi nilai, tidak lemah atau rapuh bila berjalan.



KATEGORI YANG DI PERTANDINGKAN

SERAMA "A"

SERAMA "B"

SERAMA MUDA

SERAMA REMAJA

SERAMA TANPA LAWI

SERAMA INDUK

SERAMA ANAK "A"

SERAMA ANAK "B"
Edited by : Ningrat Serama Farm MEdan
Dikutip dari : berbagai sumber, Ex : nurseramafarm.blogspot.com, Pic copied from Google.

SECANGKIR KOPI SERAMANIA

Minggu, 10 Maret 2013

(Pernah dimuat tabloid Dwi Mingguan Agrobis)
Tak terasa sekian tahun sudah bergelut dengan bau kotoran dan gaduhnya kokok serama. Pindah dari satu kota ke kota lain, mengakrabi keriuhan kontes, semuanya menurut saya meninggalkan kesan yang cukup dalam. Bergelut dengan serama memberikan pengalaman tersendiri. Saya seperti menghadap televisi sambil menikmati secangkir kopi panas. Seolah sedang melihat perhelatan besar, mega sinetron kolosal, ada yang menari, bernyanyi, tertawa lepas tak jarang pula yang cemberut bahkan marah. Ada peran antagonis, protagonis dan ventriloquis (me-lipsync suara). Ada yang merah, hitam, putih bahkan abu-abu tak jelas. Sungguh lengkap, berwarna dan tak membosankan.
Jika melihat judul di atas, anda pasti teringat dengan Chicken Soup yang salah satu serinya menjadi best seller ataupun A Cup of Tea-nya Lygia Nostalina dan kawan-kawan. Inspirasinya memang dari mereka. Pembedanya, saya hanya ingin menuliskan yang ringan-ringan saja, tak serumit masalah-masalah dalam Chicken Soup dan A Cup of Tea. Yang penting isinya demi eksistensi jagat perserama-an.
Kalau dianalogikan bermain serama itu seperti juga menikmati kopi tubruk panas di pagi hari. Tak bisa langsung dinikmati, harus ditiup pelan, tunggu ampasnya turun kemudian sedikit demi sedikit dirasakan sedapnya. Kalau kebanyakan dapat dipastikan lidah anda akan terbakar dan keluarlah makian. Seni menikmati kopi tubruk (yang masih ada ampasnya, bukan find blend) adalah merasakan ampasnya yang tak bisa tertelan dan harus ditiupkan keluar dengan tekanan keras melalui bibir. Rasanya? Jangan ditanya. Bisa manis atau pahit, yang jelas kenikmatannya membuat sebagian besar orang ketagihan.
Bukankah begitu dalam memelihara serama. Hampir sama dengan hoby yang lain sama juga dengan kopi tubruk, untuk menghilangkan kejenuhan selepas rutinitas kantor. Melatihnya perlahan-lahan dan menyaksikan dia (serama) berkembang dengan wajar. Jika kita sedikit keterlaluan dalam melatihnya, tubuh serama yang sedikit rapuh akan rusak dan tentu saja anda takkan bisa nyaman memeliharanya. Menikmati tingkahnya di pagi hari, mendengar kokoknya tentu bisa menghilangkan kantuk kita.
Namun menikmati lenggak-lenggok unggas kecil itu tak bisa dengan mudah membuat kita pongah. Beberapa persyaratan harus dipenuhi. Harus memenuhi kriteria serama ideal dengan body apel, bulu kemas, bisa nge-jerk, lempar sayap dengan panjang yang pas (tidak menggantung) dan lebih-lebih lonjak dada atau nge-slam. Dan yang paling bisa menjadi penentu ialah saat ia menyandang juara. Pasti namanya akan tertulis tebal-tebal di otak kita. Paling tidak itulah opini yang berkembang yang seolah seperti sebuah rule bagi seramania.
Banyak pertanyaan yang mampir ke saya tentang bagaimana kelak nasib serama yang tak sesuai dengan kategori yang saya sebut di atas. Saya pernah jawab sekenanya (karena memang saya belum menemukan jawaban yang pas), bikin saja sate. Si penanya malah tertawa. Penasaran, di lain kesempatan dia menanyakan lagi dan tentu saja kali ini nada suaranya dibuat berat agar saya tak ada kesempatan cengengesan lagi. Okelah kalau begitu, kita diskusikan sekarang. Maka saat itu lahirlah kelas lokal atau yang sekarang bahasanya di buat agak lebih berkelas menjadi kelas C All Size.
Ada pertanyaan kritis lagi, apakah all size bisa disebut serama. Dan apakah sang pemenang di kelas all size bisa bangga menyandang gelar juara? Usil saya kumat lagi. Saya jawab, sang juara jelas bangga dong, paling yang gak bangga pemiliknya. Sebenarnya apa yang membuat bangga dan tidak bangga bagi seramania? Toh sewaktu-waktu serama yang ‘nggilani’ (bahasa saya bagi serama yang bagusnya ketarlaluan), mengalami masa-masa ‘buruk’. Mungkin seperti seorang perempuan yang mengalami bad hair day (pada masa tertentu rambut perempuan bisa lepek namun kelak akan bagus kembali). Inilah yang saya samakan dengan minum kopi tubruk panas. Suatu saat kita harus berhenti dari kenikmatan sejenak untuk meludahkan ampasnya ataupun meniup air panasnya hingga cukup pas untuk masuk ke lidah kita.
Padahal, seringkali kontes serama memunculkan kelas C yang menurut saya agak rancu. Kelas C sering di buka dengan persyaratan All Size, >400gr atau >500gr. Kadangpula disebut sebagai Ekhsibisi. Keterlaluan tidak ya kalau saya mengartikan kata-kata Ekshibisi secara bebas sebagai kelas pelengkap? Dengan membandingkan kelas jantan C dan kelas jantan A yang merupakan kelas bergengsi, saya rasa seramania pasti lebih bangga jika seramanya juara di kelas A. Lalu kelas mana yang mewadahi serama kategori tersebut agar bisa berprestasi sama dengan kelas bergengsi? Akankah serama-serama tersebut bisa menduduki tahta tinggi padahal secara aksesori dan tubuh nilainya jauh di bawah serama yang disebut orang ideal.
Bagaimana jika semua telah memiliki serama? Pertanyaan yang sama juga ada di otak saya saat musim tanaman dulu, jika semua sudah memiliki tanaman dan jadi penjual, lalu siapa yang akan bertindak sebagai pembeli? Jawaban untuk pertanyaan satu ini ternyata tidak sesulit saat tanaman dulu. Serama adalah hasil hybrid yang dapat dipastikan gen-nya belum fix benar atau masih berubah-ubah sehingga keturunannya pun belum bisa diharapkan 100% sama dengan induknya. Peluang mendapatkan serama ideal kira-kira hanya 20% saja. Bukan saja di peternak Indonesia namun juga di tanah kelahiran serama sendiri. Selama serama ideal masih sulit diproduksi secara masal, saya optimis euforia serama tetap terdengar, animo masyarakat terhadap serama pun bagus. Peternak masih penasaran untuk menemukan formulanya dan hobiis masih penasaran untuk memiliki yang lebih bagus lagi. Syukur-syukur kalau bisa berinovasi menciptakan type terbaru. Belum lagi tingkat kesulitan dalam menjinakkan serama yang berkarakter sedikit tidak santun, tentu merupakan hal yang menantang bagi seramania.
Apa yang sebenarnya diharapkan seramania sejati selain serama tetap ramai. Dan apa yang dibutuhkan peternak dan pebisnis serama selain pemain serama yang makin banyak. Ada pendapat bahwa jika serama ingin ramai terus, tolong dipirkan wadah yang tepat untuk serama yang lokal atau old fashion (saya lebih suka menyebutnya sebagai serama vintage agar kedengarannya tetap fashionable, maklum perempuan). Walaupun sebenarnya predikat lokal dan import ini saya pertanyakan.
Bagi saya, jika serama ingin tetap eksis, peternak, pemain, penghobi dan penjual harus satu kata dalam menjaga kualitas. Memberi ruang yang luas bagi anakan dalam kontes sepertinya cukup ampuh untuk menjaga ‘suhu’ jagat serama tetap hangat. Rata-rata pemula yang masih ragu-ragu memilih anakan sebagai perkenalan terhadap serama. Dengan diperluasnya kelas anakan maka dapat menyemangati seramania pemula, seperti kontes yang akan diselenggarakan Desember ini. Penyelenggara kontes sebaiknya juga menjaga frekuensi kontes bukan saja untuk maksud di atas (serama tetap eksis) namun juga memberi kesempatan agar saudara kita di tempat lain bisa menyelenggarakan kegiatan yang sama. Sampai saat ini, satu hal yang membanggakan, kontes serama masih memiliki spirit yang besar. Terbukti, kaki ini sering bingung untuk melangkah saat kontes dilaksanakan bersamaan. Bukan sebab segan dengan teman jika tak hadir, hanya keinginan dari dalam yang begitu kuat untuk bisa merasakan keindahan berkumpul, menyaksikan kehebohan kontes, melepaskan ketegangan otak. Saya tetap berharap motivasi itulah yang mendorong seramania datang ke kontes.
Ini hanyalah obrolan ringan seringan secangkir kopi, seringan badan saya yang kecil. Ya, saya hanyalah orang kecil dari kaum minoritas di dunia serama. Badan saya kecil, tanda tangan saya tak laku apalagi foto saya, suara saya kecil hingga tak cukup keras menembus hiruk pikuk seramania. Namun saya mempunyai impian besar terhadap sesuatu yang saya cintai. Saya masih enggan meninggalkan hingar bingar kokok serama untuk menggantinya dengan riuhnya kepak sayap. Saya tak perlu merasa tak dihargai. Tapi saya berharap ada yang mendengar walau cuma samar. Meminjam filosofi dari Bung Karno yang juga salah satu penggalan syair dalam lagu Jogja Istimewa, Holopis Kuntul Baris....Holopis Kuntul Baris seramania...mari bergandeng tangan, bersatu padu, bukan untuk prestige, bukan untuk sebuah keramaian, bukan untuk apa-apa...cukup hanya demi persaudaraan sejati.
Oleh: Tia Sulaksono
Sekretaris PSI, pengamat, pemain serama